Image source: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhuw3GaElLfnJ4HCghX4ngSmX9TeE0pOb1_lAfuVhq1F6S5uqorvoEHwfUomYDtrvh0qX6Sog8kEP42YR_qnzCciKDAhXq8BSZ1UrB3-eIcUy1bTyW7IeARwQfb6dYUi_SJyFPQsn6X6zM/s1600/DSCN5332.JPG
Liputan6.com, Jakarta Masalah kesehatan karyawan di kantor yg selama ini jadi sorotan selalu menyasar kepada fisik saja. Sedangkan kesehatan mental para pekerja jarang sekali dibicarakan.
Hal itu yg kemudian menjadi fokus kepada Hari Kesehatan Jiwa Sedunia yg jatuh kepada 10 Oktober 2017. Tema yg diangkat pun ialah Mental Health in World Place. Menurut dr Andri SpKJ FAPM dari Klinik Psikosomatik Rumah Sakit Omni, Alam Sutera, Tangerang, tema ini lebih menyoroti kesehatan jiwa di kantor.
"Kita selama ini mengenal kesehatan kerja itu menyasar kasus fisik atau keselamatan kerja di suatu perusahaan. Sedangkan kasus kesehatan mental karyawan tak pernah menjadi fokus pokok," tutur Andri dikutip dari pesan bunyi yg diterima Health Liputan6.com kepada Sabtu, 30 September 2017.
Stres di kantor tak bisa dihindari begitu saja oleh para karyawan. Kondisi ini punya impak akbar buat menghambat performa kita.
"Kalau ditinjau aneka macam interaksi antara stres serta kantor, di mana biasanya orang mengalami stres akibat pekerjaan yg terlalu berat bebannya," tutur Andri menambahkan.
Misalkan orang yg mengalami kasus kesehatan jiwa, mirip depresi, stres, serta cemas, tentu tak bisa bekerja bersama maksimal di kantor. Dampak dari kondisi ini akan memengaruhi kualitas hidup, sekaligus kualitas pekerjaan orang tersebut.
"Ini menjadi sangat krusial buat diperhatikan oleh kita seluruh. Bukan cuma karyawan, akan tetapi juga menjadi seseorang yg menyampaikan lapangan pekerjaan buat karyawan tersebut," tutur Andri menekankan.
Topik ini kemudian menjadi layak buat dibahas lantaran kita sering tanpa sadar mengalami kasus kejiwaan akan tetapi tak mendapatkan penanganan yg baik. Padahal, bila pikiran, perasaan, serta perilaku mengalami gangguan yg terjadi berturut-turut, terdapat baiknya melakukan konsultasi ke ahlinya. Bisa bersama dokter, psikolog, maupun dokter jiwa.
"Jangan ditunda lantaran gangguan kejiwaan akan sangat bekerjasama bersama kasus lainnya termasuk gangguan fisik. Sebab, gangguan kejiwaan ini bisa disembuhkan," tutur Andri.
No comments:
Post a Comment