
Image source: http://cdn.klimg.com/kapanlagi.com/p/headline/teori-teori-konspirasi-hilangnya-pesawa-94f67b.jpg
6 'Teori Konspirasi' yang Pertanyakan Kesehatan Hillary Clinton
Liputan6.com, New York - Isu kesehatan Hillary Clinton pulang menyeruak. Diawali Donald Trump & para juru bicaranya, media ortodok, & tak ketinggalan para komentator penuh kemarahan dalam global blogger.
Musuh-musuh Hillary Clinton kian mempertajam agresi mereka buat menaburkan benih keraguan akan kesehatan kandidat presiden AS dari Partai Demokrat itu.
Kampanye negatif yang dimulai sejak beberapa tahun kemudian, sudah meningkat sepanjang musim panas ini, ketika peringkat Trump mulai menurun & beliau gagal melakukan relasi beserta para calon pemilih dalam luar basis demografiknya sendiri -- masyarakat Latin & kulit gelap. Kini, ketika kampanye memasuki fase genting, beliau butuh desaka buat menggagalkan pencalonan Hillary.
Seperti halnya para "birthers" -- Trump termasuk yang paling menonjol -- yang mencoba mempertanyakan kewarganegaraan Presiden Barrack Obama, sekarang para "healthers" menggunakan pengetahuan dangkal & teori konspirasi buat berargumen bahwa Hillary menderita kerusakan otak yang akan melemahkannya.
Dalam wawancara beserta Fox News Sunday akhir pekan kemudian, mantan walikota New York City & keliru satu pendukung Trump, Rudy Giulani pertama-tama menuduh bahwa media primer menyembunyikan bukti, kemudian mendorong mereka yang ragu buat, "buka internet & lakukan pencarian beserta istilah kunci 'Hillary Clinton sakit'."
Sayangnya, sejauh ini nir ada bukti yang kredibel buat semua tuduhan itu, termasuk video yang dirujuk Giuliani. Dokter langganan Hillary, satu-satunya yang berbicara & sudah mengusut pribadi mantan bunda negara itu, sudah berulang kali mengafirmasi kesehatan & kebugaran mantan menteri luar negeri tersebut buat dapat menduduki jabatan tertinggi dalam AS.
Selama penampilannya dalam Senin malam dalam Jimmy Kimmel Show, Hillary menyebut klaim Grand Old Party (GOP) soal kesehatannya sebagai "taktik gila."
"Saya tak mengerti kenapa mereka berkata hal itu," ungkap Hillary. "Menurut saya, itu bagian dari taktik gila, sebutkan saja hal-hal gila & mungkin akan ada orang yang akan percaya."
Namun bagi mereka yang mau percaya, struktur kebohongannya hampir-hampir tak dapat ditembus, beserta sinkron keyakinan 'medis' yang kuat bahwa media bersekutu beserta Hillary, melindungi prospek politiknya beserta menyembunyikan perkara kesehatan yang cuma khayalan saja.
Berikut merupakan 6 teori 'konspirasi' yang menjatuhkan Hillary beserta berita kesehatan. Liputan6.com merangkumnya dari CNN & aneka macam sumber dalam Rabu (24/8/2016).
1. Tahun 2012
Berhari-hari sebelum beliau dijadwalkan buat bersaksi dalam Capitol Hill tentang agresi teror dalam Benghazi dalam Desember 2012, Hillary menderita gegar otak setelah mengalami kehilangan cairan tubuh & pingsan. Kesaksiannya yang dijadwalkan dalam 20 Desember, dimundurkan hingga beliau pulih.
Ironisnya, musuh politik Hillary ketika itu, mantan Duta Besar AS dalam PBB yaitu John Bolton, mensinyalir bahwa Hillary cuma berpura-pura sakit. Menurut Bolton, Hillary menderita "penyakit diplomatis" buat menghindari penyelidikan kongres.
Beberapa minggu setelah sakit, Hillary dirawat dalam rumah sakit & diberi pengencer darah buat melenyapkan penyumbatan darah dalam nadi belakang indera pendengaran kanannya. Diagnosis itu didesain setelah dilakukan inspeksi lanjutan terkait beserta gegar otaknya. Menurut dokter, gumpalan itu nir membuahkan stroke atau komplikasi neurologis lainnya.
Pada 23 Januari 2016, sebulan lebih setelah jadwal semula, Hillary bersaksi dalam komite Senat & Kongres tentang agresi Benghazi.
2. Tahun 2014
Pada bulan Mei 2014, lebih dari setahun setelah Hillary meninggalkan Kementerian Luar Negeri, ahli taktik dari partai Republik, Karl Rove memproduksi heboh beserta berkata bahwa Hillary menderita kerusakan otak dalam tahun 2012.
"Tiga puluh hari dirawat dalam rumah sakit? Dan ketika beliau ada pulang, beliau mengenakan kacamata yang hanya dikenakan oleh orang yang baru saja mengalami cedera otak yang parah?" ungkapnya kepada New York Post. "Kita perlu tahu apa sebenarnya yang terjadi"
Rove kemudian berusaha menarik komentarnya keesokan harinya, beserta dalam Fox News bahwa beliau "nir pernah menggunakan kalimat seperti itu," ketika membahas soal kerusakan otak Hillary.
Ia jua akhirnya mengakui bahwa Hillary nir dirawat selama sebulan dalam rumah sakit. Ia hanya dirawat selama 3 hari. Politifact jua memberi label "Salah" dalam klaim Rove bahwa kacamata prismatik Hillary mengambarkan bahwa cederanya lebih parah dari yang diindikasikan sebelumnya.
Isu itu akhirnya lenyap beserta sendirinya dalam tahun berikutnya. Pada bulan Juli 2015, dokter langganan Hillary, Dr. Lisa Bardack, melaporkan bahwa kesehatannya cukup prima.
"(Hillary) menjalani inspeksi susulan dalam tahun 2013, yang mengungkap berakhirnya dampak gegar otak secara menyeluruh & pelarutan total trombosis, " demikian ditulis dokter Bardack. "Hasil tes buat kelainan pembekuan darah jua negatif."
3. Tuduhan 'kejang'
Gosip itu meluas beserta amat cepat melalui jalur blog ortodok & sayap kanan hingga ke media besar seperti Breitbart, Infowars, & Fox News. Pertama, merupakan peristiwa dalam toko muffin.
Saat melakukan pemotretan dalam bulan Juni dalam Washington, Clinton menolak menjawab pertanyaan wartawan beserta "gerakan hiperbola, yaitu menggelengkan kepalanya beserta kencang selama beberapa detik," sebagaimana digambarkan oleh koresponden AP Lisa Lerer dalam kesaksiannya berjudul "Video yang membuktikan Hillary kejang? Tidak betul. Saya saksinya."
"Setelah itu," tulis Lerer, "Hillary melakukan pemotretan, ke luar dari toko, & menyapa para pendukungnya yang menanti dalam luar."
Cerita berakhir? Tidak demikian rupanya.
Lebih dari sebulan sesudahnya, blogger pro Trump Jim Hoft menemukan video tersebut & dalam situs Gateway Pundit-nya menulis beserta judul: "Wow! Apakah Hillary Mengalami Kejang dalam Depan Kamera?" Tentu saja, beliau nir mengalami kejang, sebagaimana kentara terlihat oleh semua yang hadir. Namun, video itu beserta cepat menjadi viral.
Setelah Hillary berpidato dalam Konvensi Partai Demokrat, Jim Hoft pulang mengulang serangannya, mempublikasikan GIF beserta wajah Hillary yang sedang terkejut (lantaran banyaknya balon yang turun dari langit-langit gedung) beserta judul serupa: "Wow! Media Tidak Melihatnya => Apakah Hillary Kembali Mengalami Kejang Setelah Pidatonya dalam DNC?"
Berhari-hari setelah itu, media ortodok & kampanye Trump jua mengangkat gosip itu. Penyiar Fox News Sean Hannity, pendukung Trump, bersemangat mengumpulkan panel "ahli" buat menganalisa video klip Clinton yang sedang batuk-batuk, & menggoyangkan kepalanya dalam toko muffin dalam D.C.
Dokter-dokter yang dikumpulkan oleh Hannity itu nir ada yang pernah mengusut Hillary, & setidaknya keliru satunya, yaitu koresponden medis Fox News merupakan seorang urologis. Saat seorang neurologist, Dr. Fiona Gupta, bergabung beserta panel tersebut, beliau membantah pertanyaan Hannity, beserta berkata, "Sulit buat berspekulasi hanya sinkron cuplikan video."
Saat didesak oleh Hannity yang berkata, "Itu tampak seperti kejang bagi saya," kontributor Fox lainnya yaitu Dr. Marc Siegel, seorang internis, menolaknya.
"Saya memang bukan neurologis," ungkap Siegel, "& saya pikir itu nir tampak seperti kejang."
Berikut video Hillary 'kejang'. Benarkah?