Image source: http://cimg.antaranews.com/sulteng/2016/05/ori/20160518DELIS_HEHI-aa.jpg
Liputan6.com, Brisbane - Dua mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh studi dalam Universitas Queensland dalam Brisbane, Australia berhasil memenangkan kompetisi esai bertema "Sustainable Development".
Lomba diselenggarakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) tahun 2017.
Andrian Liem dan Bernike Jacinta Effendi mengangkat topik mengenai kesehatan mental menjadi aspek yang terlupakan dalam mewujudkan pelayanan kesehatan yang holistik dalam Indonesia.
Panitia memilih tema tersebut menjadi cerminan The Sustainable Development Goals yang diharapkan mampu dicapai dalam tahun 2030.
Kesehatan mental artinya topik yang sangat akrab bagi kedua mahasiswa Indonesia yang karib disapa Andrian dan Keke tersebut, alasannya keduanya memiliki latar belakang pendidikan psikologi.
Andrian sedang menempuh pendidikan doktor dalam bidang psikologi klinis-kesehatan dan Keke baru saja memulai studi masternya dalam bidang konseling.
Dalam klarifikasi mereka kepada wartawan ABC Australia Plus Indonesia Sastra Wijaya yang Liputan6.com kutip Kamis (15/6/2017), esai yang mereka tulis memberi gambaran syarat kesehatan mental warga Indonesia dan layanan kesehatan mental yang disediakan Tanah Air.
Setelah itu, Andrian dan Keke memaparkan acara kesehatan mental yang timbul dalam Australia dan panduan dari WHO. Esai ditutup memakai alternatif solusi yang mampu diterapkan buat menaikkan layanan kesehatan yang holistik dalam Indonesia.
Secara awam perkara gangguan jiwa, khususnya kecemasan dan depresi, terus semakin tinggi, baik secara mayapada pula secara khusus dalam Indonesia.
Dari data yang mereka kumpulkan, jumlah orang memakai gangguan jiwa dalam Indonesia mencapai sekitar 6%, dan lebih poly ditemui dalam grup usia produktif. Akan akan tetapi, alasannya cacat dan diskriminasi yang masih kuat yang menimpa orang memakai gangguan jiwa dan famili mereka, poly perkara yang tidak dilaporkan sehingga menjadi seperti fenomena gunung es.
Diprediksikan jumlah orang memakai gangguan jiwa dalam Indonesia secara riil mampu mencapai 15 %. Ironisnya, rasio tenaga kesehatan mental dalam Indonesia sangat mini, yaitu 3 psikiater dan 2 psikolog dalam antara 1 juta jiwa.
"Oleh karenanya praktik pasung masih relatif seringkali dijumpai dalam Indonesia, khususnya dalam wilayah pedesaan atau lokasi yang jauh dari pusat layanan kesehatan." tulis Andrian dan Keke dalam esai mereka.
Layanan dalam rumah sakit jiwa pula masih dalam bawah standar yang ditetapkan WHO. Misalnya pasien dikunci dalam dalam kamar, jumlah pasien yang melebihi kapasitas kamar, dan kebersihan kamar yang sangat rendah.
Walau Undang-Undang perihal Kesehatan Jiwa sudah disahkan dalam tahun 2014, implementasinya dalam peningkatan layanan kesehatan mental belum terasa secara konkret.
Berdasarkan kajian yang mereka lakukan, Andrian dan Keke merekomendasikan empat prinsip buat mewujudkan intervensi kesehatan mental yang sukses.
Pertama artinya menghormati martabat orang memakai gangguan jiwa. Kedua artinya menghargai kearifan lokal dan melibatkan anggota komunitas menjadi bentuk dukungan sosial.
Prinsip ketiga artinya kesetaraan, yaitu layanan kesehatan mental wajib diberikan kepada mereka yang membutuhkan tanpa diskriminasi apapun.
Terakhir, layanan kesehatan mental wajib diberikan oleh tim kesehatan yang merupakan kerja sama dari multidisiplin profesi.
Prinsip-prinsip tersebut kemudian dipecah ke dalam empat kegiatan.
Langkah pertama artinya kenaikan pangkat kesehatan mental melalui menghilangkan cacat terhadap gangguan jiwa, mewujudkan lingkungan yang ramah psikologis, dan melatih keterampilan personal.
Hal selanjutnya artinya melakukan pencegahan gangguan jiwa memakai mendorong sikap mencari pertolongan melalui acara "pertolongan pertama buat kesehatan mental".
Program Pencegahan Gangguan Jiwa
Program pencegahan gangguan jiwa ini kali pertama dikembangkan dalam Australia dalam tahun 2000, dan kini sudah diadopsi secara mayapada. Hasil penelitian menunjukan bahwa kenaikan pangkat kesehatan mental dan pencegahan gangguan jiwa mampu menekan implikasi ekonomi yang disebabkan oleh gangguan jiwa.
Langkah ketiga dan keempat berkaitan memakai perawatan dan rehabilitasi orang memakai gangguan jiwa.
Pada tahun 2013 baru tersedia 72 rumah sakit jiwa dalam seluruh propinsi dalam Indonesia dan semua berlokasi dalam kota besar.
"Oleh karenanya intervensi awal sangat diharapkan dalam wilayah pelosok, sekaligus peningkatan kuantitas dan kualitas profesi kesehatan mental," tulis Andrian.
Puskesmas menjadi lini terdepan layanan kesehatan utama mampu menjadi keliru satu alternatif dalam penyediaan layanan kesehatan mental dalam wilayah terpencil, misalnya memakai menghadirkan psikolog klinis dalam sana.
Langkah ini sudah dipelopori oleh Kabupaten Sleman dalam Propinsi DI Yogyakarta bekerja-sama memakai Fakultas Psikologi UGM.
Andrian, yang pula seorang psikolog dan penerima beasiswa LPDP RI menekankan, bahwa kearifan dan komunitas lokal perlu dilibatkan dalam acara rehabilitasi.
"Di Bali timbul institut kesehatan mental yang memadukan pendekatan pengobatan medis konvensional dan psiko-spirit-sosio-kultural dalam pelayanan yang diberikan." jelas Andrian.
Sementara Keke yang pernah menjadi pengajar bimbingan dan konseling dalam sebuah SMP dalam Bandung sangat berharap bahwa rekomendasi ini sungguh ditindaklanjuti oleh Pemerintah Indonesia, demi menaikkan kesehatan mental warga Indonesia.
Berdasarkan pengalamannya menjadi pengajar, Keke melihat masih kurangnya kesadaran dan pemahaman orangtua, murid, dan staf pengajar akan fungsi dan manfaat konseling yang menjadikan meningkatnya cacat akan kesehatan mental dalam warga.
Untuk mewujudkan hal tersebut, Keke akan mempresentasikan esai mereka dalam Kongres PPIA 2017 yang akan dihadiri pula oleh Konsulat Jenderal RI dalam Sydney.
Selain itu, gugusan esai terbaik dari kompetisi ini akan dikirimkan kepada Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi RI.
No comments:
Post a Comment